Apakah IAEA bersikap lunak terhadap Israel?

Konflik Palestina–Israel merupakan salah satu konflik paling lama dan kompleks di dunia modern. Sejak 1948, perang, pengusiran, dan pendudukan wilayah telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang mendalam, termasuk tuduhan genosida terhadap rakyat Palestina. 


Di sisi lain, Israel diyakini memiliki persenjataan nuklir yang tidak pernah diumumkan secara resmi, sehingga menambah dimensi baru dalam keamanan kawasan. 


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan badan-badannya, termasuk International Atomic Energy Agency (IAEA), memiliki peran penting meski terbatas dalam menangani isu ini.


Sejak 1948, DK PBB telah mengeluarkan berbagai resolusi terkait Palestina, termasuk seruan gencatan senjata dan pengakuan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.


Namun, upaya ini kerap terhambat oleh penggunaan hak veto Amerika Serikat yang mendukung Israel.


Israel diyakini memiliki senjata nuklir sejak 1960-an, namun tidak pernah mengakuinya secara resmi (kebijakan nuclear opacity).


Lalu disaat seperti ini apa yang IAEA lakukan? 

Apakah IAEA tidak punya solusi atau memang berkolusi?


Israel bukan anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), NPT bukan perjanjian Universal yang Wajib sehingga tidak tunduk pada inspeksi penuh IAEA.


Dan jika Israel tidak bergabung kedalam IAEA maka Israel tidak akan punya nuklir dikarenakan Israel tidak punya bahan bakar nuklir seperti Uranium dan Plutonium.


Lalu darimana mereka mendapatkan nuklir?


Dari laman web historia Israel membeli 200 ton uranium secara rahasia dari perusahaan tambang Belgia, Union Minière du Haut Katanga. Dan juga banyak bukti dan dugaan lainnya.


Tapi mengapa Israel tidak mengaku?


AS secara historis mendukung Israel dan tidak memaksa mereka untuk menandatangani NPT.


Ada semacam “kesepakatan tidak tertulis” sejak era Presiden Nixon bahwa Israel boleh mempertahankan kebijakan nuklir ambigu asalkan tidak mengumumkannya secara resmi.


Dengan adanya Nuclear Ambiguity dimana Israel secara resmi tidak pernah mengakui atau menyangkal memiliki senjata nuklir.


Dengan tetap ambigu, Israel memaksa negara lain untuk berasumsi bahwa mereka memiliki kemampuan nuklir yang canggih, yang mereka anggap sebagai alat pencegahan yang efektif. 


Iran menuduh IAEA bersikap lunak terhadap Israel. Dan ini bukan tanpa alasan intelijen Iran mengklaim telah menemukan bukti bahwa IAEA membocorkan informasi sensitif tentang program nuklir Iran kepada badan intelijen Israel.


Iran dan pendukungnya melihat ketidakmampuan IAEA untuk memeriksa program nuklir Israel, membuat Iran memutuskan hubungan dengan IAEA.


Sekarang IAEA hanya bisa melakukan pemantauan terbatas pada fasilitas nuklir sipil Israel yang secara sukarela diawasi.


Negara-negara anggota PBB, khususnya blok Arab, beberapa kali meminta IAEA menekan Israel agar membuka semua fasilitas nuklirnya untuk inspeksi. Namun, belum ada hasil nyata.


Meskipun senjata nuklir tidak digunakan dalam konflik, keberadaan arsenal nuklir Israel meningkatkan ketegangan kawasan dan menciptakan asimetri kekuatan yang semakin menekan posisi Palestina.

Komentar

Postingan Populer